Cendrawasih Merah
Paradisaea rubra
Panjang
30-33 cm
Berat
158-224 g
Habitat
Hutan Hujan Dataran Rendah
Reproduksi
1-2 telur
Status Konservasi
Ancaman Utama
- Degradasi habitat di pulau kecil
- Perburuan ilegal untuk hiasan/awetan
- Pembangunan infrastruktur wisata tak terkontrol
Upaya Konservasi
- Ekowisata berbasis masyarakat
- Patroli adat (Sasi)
- Penetapan Cagar Alam
Ekor Spiral sang Penari
Cendrawasih Merah (Paradisaea rubra) memiliki ciri fisik yang membedakannya dari semua jenis cendrawasih lain: sepasang kawat ekor utama
yang berbentuk pipih dan melingkar seperti spiral atau pembuka botol (corkscrew). Jantan dewasa tampil memukau dengan bulu hias samping
berwarna merah darah berujung putih, kepala kuning oranye, dan 'pompom' bulu hijau zamrud di atas matanya.
Nama Lokal
Sinonim
Identifikasi Lapangan
Ciri Pembeda Utama
Kawat ekor spiral dan bulu samping merah.
Sering Tertukar Dengan
- cendrawasih-besar:Cendrawasih Besar ekornya lurus, Cendrawasih Merah ekornya spiral/melingkar.
Tips Pengamatan
- Datang sebelum matahari terbit di spot pengamatan (lek).
- Cari pohon tinggi yang menonjol di bukit.
Endemik Kepulauan Raja Ampat
Berbeda dengan kerabatnya yang tersebar di daratan utama Papua, Cendrawasih Merah memiliki sebaran yang sangat terbatas (endemik pulau).
Mereka hanya dapat ditemukan secara alami di pulau Waigeo, Batanta, dan pulau-pulau kecil sekitarnya (Gam, Gemien) yang kini masuk dalam
wilayah Provinsi Papua Barat Daya. Habitatnya adalah hutan hujan dataran rendah hingga perbukitan kapur (0-600 mdpl).
Pencari Buah di Kanopi
Burung ini adalah pemakan buah (frugivora) yang menghabiskan sebagian besar waktunya di kanopi hutan. Makanan utamanya adalah buah ara,
pala hutan, dan beri-berian (80%). Namun, untuk mencukupi kebutuhan protein, terutama bagi anakan yang sedang tumbuh, mereka juga
memangsa serangga seperti jangkrik dan laba-laba.
Komposisi Pakan
frugivoraPeta Persebaran
Status Endemik
Endemik IndonesiaNegara
Provinsi
Fakta Menarik
- Memiliki kawat ekor unik berbentuk spiral (corkscrew), berbeda dengan kawat lurus spesies lain.
- Jantan melakukan tarian 'akrobatik' dengan menggantung terbalik untuk memamerkan bulu indahnya.
- Endemik khusus kepulauan Raja Ampat, kini menjadi ikon Provinsi Papua Barat Daya.
Perilaku & Suara
Panggilan 'wak-wak-wak' yang keras, parau, dan nasal. Mirip suara gagak tetapi lebih berirama.
Reproduksi
1-2
Telur
16
Hari Inkubasi
18
Hari Asuh
60
Bulan Dewasa
Musim Kawin
Tipe Sarang
Tarian Cinta Poligini
Sistem perkawinan mereka adalah poligini, di mana jantan tidak membantu membesarkan anak. Jantan akan berkumpul di pohon tertentu (arena lek)
dan melakukan tarian rumit—merentangkan sayap, menggantung terbalik, dan menggetarkan bulu merahnya—untuk memikat sebanyak mungkin betina.
Budaya & Sejarah
Simbol Daerah
Ikon Pariwisata Raja Ampat & Papua Barat Daya
Kepercayaan Lokal
Dianggap 'burung surga' yang tak pernah menjejak tanah.
Sejarah
Dideskripsikan oleh Daudin (1800). Spesimen awal ke Eropa tanpa kaki memicu mitos asal-usul surgawi.
Pemeliharaan & Harga
Info Pemeliharaan
Hanya boleh dipelihara lembaga konservasi berizin (F2). Stres tinggi dan butuh diet sangat spesifik.
Kisaran Harga
Tidak tersedia di pasaran
Perdagangan hidup sangat jarang karena mortalitas tinggi. Pasar gelap internasional memperdagangkan awetan (taxidermy) dengan harga tinggi, namun ini ilegal dan pidana.
Update: 2024
Galeri Foto

Jantan posisi display terbalik

Detail kawat ekor spiral
Suara & Kicauan
Nyanyian Parau Hutan Waigeo
Di pagi hari, hutan Waigeo sering bergema oleh suara panggilan mereka: 'wak-wak-wak' yang keras, parau, dan sengau.
Suara ini berfungsi sebagai panggilan bagi jantan untuk berkumpul di arena lek dan memulai tarian memikat betina.
Wak-wak-wak nasall.
"wak-wak-wak"
Credit: xeno-canto
Frekuensi berkicau: pagi-sore
Pertanyaan Umum
Perbedaan paling utama adalah bentuk kawat ekornya. Cendrawasih Merah memiliki kawat ekor berbentuk SPIRAL/MELINGKAR, sedangkan jenis lain seperti Cendrawasih Besar atau Raggiana memiliki kawat ekor yang lurus panjang.
Lokasi terbaik adalah di Desa Saporkren atau Warkesi di Pulau Waigeo, Raja Ampat (Provinsi Papua Barat Daya). Wisatawan biasanya harus trekking pagi-pagi sekali ke spot pengamatan yang dikelola masyarakat lokal.
Karena sebarang geografisnya sangat terbatas, hanya ada di beberapa pulau spesifik di Raja Ampat (Waigeo, Batanta, Gam, Gemien) dan tidak ditemukan di tempat lain di dunia, bahkan di daratan utama Papua sekalipun.
Status Konservasi
Ancaman Utama
- Degradasi habitat di pulau kecil
- Perburuan ilegal untuk hiasan/awetan
- Pembangunan infrastruktur wisata tak terkontrol
Upaya Konservasi
- Ekowisata berbasis masyarakat
- Patroli adat (Sasi)
- Penetapan Cagar Alam
Fakta Menarik
- Memiliki kawat ekor unik berbentuk spiral (corkscrew), berbeda dengan kawat lurus spesies lain.
- Jantan melakukan tarian 'akrobatik' dengan menggantung terbalik untuk memamerkan bulu indahnya.
- Endemik khusus kepulauan Raja Ampat, kini menjadi ikon Provinsi Papua Barat Daya.