Elang Jawa
Nisaetus bartelsi
Panjang
60 cm
Berat
900-1300 g
Habitat
Hutan Hujan Tropis Primer
Reproduksi
1 telur
Status Konservasi
Ancaman Utama
- Degradasi dan fragmentasi habitat hutan
- Perburuan liar untuk perdagangan ilegal
- Konversi lahan hutan menjadi pertanian
Upaya Konservasi
- Penetapan sebagai Satwa Nasional (1993)
- Program pelepasliaran (reintroduksi)
- Monitoring rutin di Taman Nasional kunci
Ciri-ciri Fisik Elang Jawa
Elang Jawa (Nisaetus bartelsi) adalah raptor berukuran sedang dengan panjang tubuh sekitar 60 cm.
Ciri yang paling mencolok dan ikonik adalah jambul hitam panjang dengan ujung putih (2-4 helai) di kepala yang menjulang vertikal,
mirip dengan ilustrasi Burung Garuda. Tubuhnya didominasi warna cokelat kastanye di punggung, dengan pola garis-garis (barring)
rapat berwarna cokelat gelap pada bagian dada hingga perut dan kaki. Sayapnya lebar dan membulat, memungkinkannya bermanuver
lincah di antara rapatnya pepohonan hutan hujan.
Nama Lokal
Sinonim
Identifikasi Lapangan
Ciri Pembeda Utama
Jambul vertikal panjang dan pola batik di perut.
Sering Tertukar Dengan
- elang-brontok:Elang Brontok fase pucat mirip, tapi jambulnya pendek dan tidak vertikal setegas Elang Jawa.
Tips Pengamatan
- Cari spot pandang di bukit menghadap lembah hutan.
- Tunggu jam 9-11 pagi saat thermal udara naik untuk melihat mereka soaring.
Habitat dan Persebaran
Elang Jawa adalah spesies endemik yang hanya dapat ditemukan di Pulau Jawa. Habitat utamanya adalah hutan hujan tropis primer
yang masih asri, hutan pegunungan, dan hutan sekunder tua. Mereka menyukai area dengan pohon-pohon tinggi di lereng terjal
pada ketinggian 500-2.000 mdpl. Keberadaan Elang Jawa sering menjadi indikator kesehatan ekosistem hutan setempat.
Makanan dan Kebiasaan Berburu
Sebagai predator puncak, Elang Jawa adalah karnivora murni. Diet utamanya (60-70%) terdiri dari mamalia kecil seperti tupai,
jelarang, dan tikus pohon. Mereka juga memangsa reptil seperti kadal dan ular kecil (15-20%), serta burung-burung lain seperti
ayam hutan (10-15%). Elang Jawa berburu dengan cara bertengger diam di dahan tinggi (perch hunting) untuk mengamati mangsa,
lalu menyambar dengan cepat dan senyap.
Komposisi Pakan
karnivoraPeta Persebaran
Status Endemik
Endemik IndonesiaNegara
Pulau Utama
Provinsi
Fakta Menarik
- Memiliki jambul ikonik yang sangat mirip dengan ilustrasi Burung Garuda pada lambang negara Indonesia.
- Merupakan salah satu raptor paling langka di dunia karena hanya hidup di pulau terpadat di Indonesia (Jawa).
- Pasangan Elang Jawa sangat setia (monogami) dan menjaga wilayah teritorialnya dengan ketat.
Perilaku & Suara
Pekikan tinggi dan melengking 'ii-ii-wiii' atau 'klii-iiuw' yang diulang.
Reproduksi
1
Telur
48
Hari Inkubasi
450
Hari Asuh
42
Bulan Dewasa
Musim Kawin
Tipe Sarang
Siklus Reproduksi yang Lambat
Elang Jawa memiliki tingkat reproduksi yang sangat rendah. Mereka umumnya monogami dan hanya bertelur satu butir setiap dua tahun sekali (biennial breeding).
Musim berbiak puncaknya terjadi pada Mei-September. Sarang berupa tumpukan ranting besar dibangun di pohon raksasa seperti Rasamala,
pada ketinggian 40-50 meter. Masa inkubasi telur sekitar 47-50 hari, dan anak elang akan diasuh induknya dalam waktu yang sangat lama, hingga 400-500 hari.
Budaya & Sejarah
Simbol Daerah
Satwa Nasional (Satwa Pesona)
Kepercayaan Lokal
Identik dengan lambang negara 'Garuda Pancasila' karena jambulnya.
Sejarah
Koleksi 1820-an, dideskripsikan formal 1924 oleh Erwin Stresemann dari spesimen Max Bartels.
Pemeliharaan & Harga
Info Pemeliharaan
Memelihara Elang Jawa oleh perseorangan adalah tindak pidana. Strictly Prohibited kecuali lembaga konservasi berizin.
Kisaran Harga
Tidak tersedia di pasaran
Perdagangan spesies ini adalah tindakan kriminal. Tidak ada harga pasar legal.
Update: 2025
Galeri Foto

Elang Jawa hinggap

Kepala Elang Jawa
Suara & Kicauan
Pekikan Elang Jawa
Suara Elang Jawa cukup khas, berupa pekikan tinggi dan melengking yang terdengar seperti 'ii-ii-wiii' atau 'klii-iiuw'.
Suara ini sering diulang-ulang saat mereka terbang soaring (melayang berputar) di atas kanopi hutan atau saat berkomunikasi dengan pasangannya.
Pekikan ii-ii-wiii.
"ii-ii-wiii"
Credit: xeno-canto
Frekuensi berkicau: jarang
Pertanyaan Umum
Secara simbolis, ya. Elang Jawa dianggap sebagai representasi dunia nyata yang paling mendekati deskripsi Burung Garuda dalam lambang negara Indonesia, terutama karena jambulnya yang khas. Pemerintah menetapkannya sebagai Satwa Nasional pada tahun 1993.
Tidak boleh. Elang Jawa berstatus Dilindungi Penuh berdasarkan UU No. 5 Tahun 1990. Memelihara, memperjualbelikan, atau menyakiti satwa ini adalah tindak pidana dengan ancaman hukuman penjara dan denda besar. Perawatan hanya diizinkan bagi lembaga konservasi (ex-situ) yang memiliki izin khusus.
Populasi Elang Jawa terus menurun akibat hilangnya habitat hutan di Jawa yang padat penduduk, serta perburuan liar untuk perdagangan hewan peliharaan ilegal. Tingkat reproduksinya yang lambat (1 telur per 2 tahun) membuat pemulihan populasinya menjadi sangat sulit.
Status Konservasi
Ancaman Utama
- Degradasi dan fragmentasi habitat hutan
- Perburuan liar untuk perdagangan ilegal
- Konversi lahan hutan menjadi pertanian
Upaya Konservasi
- Penetapan sebagai Satwa Nasional (1993)
- Program pelepasliaran (reintroduksi)
- Monitoring rutin di Taman Nasional kunci
Fakta Menarik
- Memiliki jambul ikonik yang sangat mirip dengan ilustrasi Burung Garuda pada lambang negara Indonesia.
- Merupakan salah satu raptor paling langka di dunia karena hanya hidup di pulau terpadat di Indonesia (Jawa).
- Pasangan Elang Jawa sangat setia (monogami) dan menjaga wilayah teritorialnya dengan ketat.