Maleo
Macrocephalon maleo
Panjang
55-60 cm
Berat
1400-1700 g
Habitat
Hutan Hujan Dataran Rendah
Reproduksi
8-12 telur
Status Konservasi
Ancaman Utama
- Pencurian telur oleh manusia untuk konsumsi
- Predasi telur/anakan oleh biawak dan anjing
- Hilangnya habitat hutan koridor ke pantai
Upaya Konservasi
- Penjagaan ketat nesting grounds
- Penetasan semi-alami (hatchery)
- Program restorasi koridor satwa
Ciri Fisik Unik Maleo
Maleo Senkawor (Macrocephalon maleo) mudah dikenali dari tonjolan tulang keras (casque) berwarna hitam di atas kepalanya yang menyerupai helm.
Burung berukuran 55-60 cm ini memiliki bulu punggung hitam legam yang kontras dengan dada berwarna merah muda salmon atau keputihan.
Kakinya besar dan kuat, beradaptasi untuk menggali tanah, dengan warna abu-abu kebiruan. Saat berjalan, mereka sering menegakkan ekornya secara vertikal.
Nama Lokal
Sinonim
Identifikasi Lapangan
Ciri Pembeda Utama
Jambul helm (casque) hitam dan dada pink.
Sering Tertukar Dengan
- burung-gosong:Burung Gosong (Megapoodius) lebih kecil, warna cokelat kusam, dan tidak punya casque helm yang menonjol.
Tips Pengamatan
- Kunjungi pantai peneluran di TN Bogani Nani Wartabone.
- Datang pagi hari saat pasangan turun dari hutan.
Habitat dan Ketergantungan Geotermal
Maleo adalah endemik Sulawesi dan Buton yang menghuni hutan hujan dataran rendah hingga perbukitan (0-1200 mdpl).
Keunikan utamanya adalah ketergantungan mutlak pada sumber panas bumi (geotermal) atau pasir pantai yang terpapar matahari terik
untuk mengerami telur. Mereka memerlukan koridor hutan yang menghubungkan area mencari makan dengan area peneluran ini.
Pakan di Hutan Sulawesi
Sebagai omnivora, Maleo memakan berbagai jenis pakan yang tersedia di lantai hutan. Diet utamanya terdiri dari biji-bijian kaya lemak
seperti biji kemiri dan buah kenari (40%), serta buah-buahan jatuh seperti Ficus spp. (35%). Mereka juga aktif berburu invertebrata
seperti semut, rayap, kumbang, dan siput kecil (25%) sebagai sumber protein.
Komposisi Pakan
omnivoraPeta Persebaran
Status Endemik
Endemik IndonesiaNegara
Fakta Menarik
- Satu-satunya burung yang 'pingsan' setelah bertelur saking besarnya ukuran telur tersebut.
- Anak burung Maleo 'yatim piatu' sejak lahir; menetas di dalam tanah, menggali keluar, dan langsung mandiri.
- Pasangan Maleo sangat setia (monogami seumur hidup) dan selalu terlihat berduaan.
Perilaku & Suara
Suara panggilan keras yang serak seperti lenguhan atau gonggongan pendek saat memanggil pasangan.
Reproduksi
8-12
Telur
70
Hari Inkubasi
0
Hari Asuh
30
Bulan Dewasa
Musim Kawin
Tipe Sarang
Inkubator Alami dan Anak Mandiri
Maleo tidak mengerami telurnya sendiri. Betina akan menggali lubang dalam di pasir pantai atau tanah hangat dekat sumber air panas
untuk meletakkan telurnya. Panas bumi akan mengerami telur selama 60-80 hari. Yang paling menakjubkan, anak Maleo menetas di dalam tanah,
harus berjuang menggali keluar selama berhari-hari, dan begitu muncul di permukaan, mereka sudah bisa terbang dan mencari makan sendiri
tanpa asuhan induk sama sekali (superprecocial).
Budaya & Sejarah
Simbol Daerah
Maskot Provinsi Sulawesi Tengah
Kepercayaan Lokal
Dianggap hewan sakral oleh masyarakat adat Batui (Upacara Tumpe).
Sejarah
Dideskripsikan oleh Salomon Müller (1846). Genus 'Macrocephalon' berarti 'kepala besar' (Yunani).
Pemeliharaan & Harga
Info Pemeliharaan
Mustahil dipelihara awam. Membutuhkan lahan geotermal alami untuk berkembang biak.
Kisaran Harga
Tidak tersedia di pasaran
WARNING: Perdagangan ilegal umumnya terjadi pada TELUR (Rp 25.000 - 100.000/butir), bukan burung hidup. Burung dewasa sangat jarang diperjualbelikan. Perdagangan telur adalah pendorong utama kepunahan.
Update: 2024
Galeri Foto

Maleo berjalan di pasir

Kepala Maleo dengan casque
Suara & Kicauan
Komunikasi Pasangan
Maleo bukanlah burung penyanyi. Suara mereka berupa panggilan keras yang serak, terdengar seperti lenguhan dalam atau gonggongan pendek.
Suara ini sering dikeluarkan secara bersahutan (duet) antara jantan dan betina untuk menjaga ikatan pasangan dan menandai wilayah.
Lenguhan keras seperti gonggongan.
"mooo-ooo / guk"
Credit: xeno-canto
Frekuensi berkicau: jarang
Pertanyaan Umum
Telur Maleo sangat besar (hingga 5x telur ayam) dan berat (16% bobot induk), sehingga tidak memungkinkan untuk dierami tubuh induk. Mereka berevolusi memanfaatkan panas alam (geotermal/surya) sebagai inkubator.
Ya, benar. Maleo adalah spesies 'superprecocial'. Setelah menetas di dalam tumpukan pasir/tanah, anakan harus menggali jalan keluar sendiri dan langsung hidup mandiri sepenuhnya tanpa bantuan atau perlindungan induknya.
TIDAK. Maleo berstatus Critically Endangered (Kritis) dan Dilindungi Penuh. Memeliharanya hampir mustahil karena kebutuhan habitat geotermal yang spesifik, dan perdagangan telur/burung ini adalah tindak pidana.
Status Konservasi
Ancaman Utama
- Pencurian telur oleh manusia untuk konsumsi
- Predasi telur/anakan oleh biawak dan anjing
- Hilangnya habitat hutan koridor ke pantai
Upaya Konservasi
- Penjagaan ketat nesting grounds
- Penetasan semi-alami (hatchery)
- Program restorasi koridor satwa
Fakta Menarik
- Satu-satunya burung yang 'pingsan' setelah bertelur saking besarnya ukuran telur tersebut.
- Anak burung Maleo 'yatim piatu' sejak lahir; menetas di dalam tanah, menggali keluar, dan langsung mandiri.
- Pasangan Maleo sangat setia (monogami seumur hidup) dan selalu terlihat berduaan.