Jalak Bali
Leucopsar rothschildi
Panjang
21-25 cm
Berat
70-115 g
Habitat
hutan musim dataran rendah
Reproduksi
2-3 telur
Status Konservasi
Ancaman Utama
- Habitat yang terfragmentasi (ancaman alih fungsi lahan)
- Perubahan iklim (kemarau panjang mengurangi ketersediaan air/pakan)
- Potensi perburuan liar (meski sudah sangat berkurang)
Upaya Konservasi
- Penangkaran ex-situ (luar habitat)
- Pelepasliaran rutin (restocking) oleh TNBB
- Pemasangan kotak sarang buatan (nest box)
- Patroli rutin jagawana
Ciri-ciri Fisik Jalak Bali
Jalak Bali (Leucopsar rothschildi) memiliki postur tubuh sedang dengan panjang sekitar 21-25 cm.
Warna dominan bulunya adalah putih bersih seperti kapas (90% tubuh), kontras dengan ujung sayap (remiges)
dan ujung ekor yang berwarna hitam legam. Ciri paling ikonik adalah adanya kulit botak berwarna biru cerah
di area sekitar mata (kacamata biru) dan jambul (crest) putih panjang yang menjuntai ke belakang,
yang akan ditegakkan saat burung berkicau atau merasa terancam.
Nama Lokal
Identifikasi Lapangan
Ciri Pembeda Utama
Kulit biru cerah di sekitar mata tanpa bulu dan jambul putih panjang
Sering Tertukar Dengan
- jalak-putih:Jalak Bali memiliki jambul lebih panjang dan kulit biru mencolok di sekitar mata, sedangkan Jalak Putih tidak memiliki ciri ini
- jalak-suren:Jalak Suren memiliki bulu hitam-putih, sedangkan Jalak Bali seluruhnya putih kecuali ujung sayap dan ekor
Tips Pengamatan
- Paling aktif di pagi hari antara jam 6-9
- Sering terlihat berkelompok kecil 3-5 ekor saat mencari makan
- Dengarkan kicauan melodis khasnya yang bervariasi
- Perhatikan perilaku water bathing dan ant bathing yang unik
Habitat Asli dan Persebaran
Jalak Bali adalah satwa endemik yang secara alami hanya hidup di kawasan Taman Nasional Bali Barat (TNBB),
terutama di Semenanjung Prapat Agung. Habitat yang disukai adalah hutan musim dataran rendah (0-175 mdpl)
dan area savana/padang rumput semak yang memiliki pohon semak dan palm savana dengan lubang pohon tua untuk bersarang.
Populasi introduksi juga dapat ditemukan di Pulau Nusa Penida sebagai suaka.
Makanan dan Diet Jalak Bali
Di habitat aslinya, Jalak Bali bersifat omnivora dengan kecenderungan frugivora-insektivora.
Sekitar 60-70% porsi makannya adalah buah-buahan dan biji-bijian seperti Lantana camara,
Sawo kecik (Manilkara kauki), dan buah Ficus sp. Mereka juga aktif berburu serangga dan invertebrata
seperti semut, ulat, belalang, dan rayap (30-40%), terutama saat masa meloloh anakan untuk kebutuhan protein.
Ketersediaan air bersih juga sangat krusial bagi spesies ini.
Peta Persebaran
Fakta Menarik
- Jalak Bali adalah satu-satunya spesies burung endemik asli pulau Bali yang masih tersisa; spesies lain seperti Harimau Bali sudah punah
- Mereka adalah burung yang sangat bersih; sering terlihat melakukan water bathing (mandi air) dan ant bathing (menggosokkan semut ke bulu untuk membersihkan parasit)
- Di alam liar, mereka sering bersarang di lubang bekas burung Pelatuk karena paruh mereka tidak cukup kuat untuk melubangi pohon keras sendiri
- Pernah dianggap 'hampir punah di alam liar' (Extinct in the Wild) pada awal 2000-an sebelum program breeding masif berhasil menyelamatkannya
- Gambar Jalak Bali diabadikan dalam koin uang logam Rupiah pecahan Rp 200 (emisi 2003)
Perilaku & Suara
Kicauan bervariasi dari suitan melodis hingga suara chattering kasar. Mampu meniru suara burung lain di sekitarnya
Reproduksi
2-3
Telur
14
Hari Inkubasi
28
Hari Asuh
12
Bulan Dewasa
Musim Kawin
Tipe Sarang
Perkembangbiakan Jalak Bali
Jalak Bali berkembang biak pada musim penghujan (Oktober hingga April/Mei). Mereka adalah cavity nester,
memanfaatkan lubang alami pada pohon tua atau bekas sarang pelatuk untuk bersarang. Betina bertelur 2-3 butir
berwarna hijau kebiruan per periode. Masa inkubasi berlangsung sekitar 12-14 hari, dan anak burung diasuh selama
21-28 hari sampai bisa terbang (fledging). Kematangan seksual dicapai pada usia 10-12 bulan.
Budaya & Sejarah
Simbol Daerah
Maskot Fauna Provinsi Bali (ditetapkan 1991). Menjadi inspirasi maskot Pemilu Indonesia 2024 (Sura & Sulu)
Kepercayaan Lokal
Sering digambarkan dalam seni lukis tradisional Bali (gaya Keliki/Ubud) sebagai simbol keindahan alam pulau Bali
Sejarah
Ditemukan oleh Dr. Baron Stressmann (ahli burung Inggris) pada ekspedisi tahun 1911, dideskripsikan oleh Lord Walter Rothschild pada tahun 1912
Pemeliharaan & Harga
Info Pemeliharaan
Hanya boleh memelihara hasil penangkaran keturunan kedua (F2) yang dilengkapi sertifikat dan ring resmi BKSDA [web:7][web:13].
Kisaran Harga
Harga wajib termasuk sertifikat BKSDA. Burung tanpa sertifikat jauh lebih murah namun ilegal dan berisiko tinggi disita. Harga anakan per pasang (usia <3 bulan): Rp 2.500.000 - 3.500.000. Harga remaja: Rp 3.500.000 - 4.500.000 per pasang. Harga dewasa siap produksi: Rp 4.700.000 - 7.000.000 per pasang.
Update: 2025-10-15
Galeri Foto

Jalak Bali pose jambul tegak

Detail kacamata biru dan jambul
Suara & Kicauan
Suara dan Kicauan Jalak Bali
Jalak Bali memiliki kicauan yang sangat bervariasi, mulai dari suitan melodis hingga suara chattering kasar.
Burung ini mampu meniru suara burung lain di sekitarnya dengan baik. Karakteristik suaranya adalah melodis,
noisy (berisik saat berkelompok), variatif, dengan panggilan alarm yang tajam. Mereka aktif berkicau terutama
saat mencari makan dalam kelompok kecil atau saat berkomunikasi dengan pasangan.
Kicauan bervariasi dari suitan melodis hingga suara chattering kasar, mampu meniru suara burung lain
"cuit-cuit-criiiik"
Credit: xeno-canto.org(CC BY-NC-SA 4.0)
Credit: xeno-canto.org(CC BY-NC-SA 4.0)
Frekuensi berkicau: sering
Pertanyaan Umum
Boleh, dengan syarat ketat. Anda hanya diperbolehkan memelihara Jalak Bali hasil penangkaran (minimal generasi F2) yang memiliki ring (cincin) dan Sertifikat Sah dari BKSDA. Pemeliharaan tanpa sertifikat adalah tindak pidana dengan ancaman penjara 5 tahun.
Harga Jalak Bali bersertifikat resmi BKSDA berkisar antara Rp 2.500.000 hingga Rp 3.500.000 untuk anakan sepasang (usia <3 bulan), Rp 3.500.000 - 4.500.000 untuk remaja, dan Rp 4.700.000 - 7.000.000 untuk dewasa siap produksi. Harga wajib termasuk sertifikat BKSDA.
Berkat program konservasi intensif, populasi di alam liar (TNBB) telah pulih dari angka kritis. Per 2024-2025, estimasi populasi di alam liar mencapai sekitar 550-600 ekor, naik drastis dari hanya kurang dari 6 ekor pada tahun 2001. Populasi sempat turun sekitar 48 ekor pada akhir 2023 akibat kemarau panjang El Nino, namun tren jangka panjang stabil meningkat.
Jalak Bali hanya bisa ditemukan di Taman Nasional Bali Barat (TNBB), khususnya di Semenanjung Prapat Agung. Populasi introduksi juga dapat ditemukan di Pulau Nusa Penida. Untuk melihat burung ini, diperlukan izin dan panduan dari pihak TNBB.
Jalak Bali memiliki kulit biru mencolok di sekitar mata dan jambul putih panjang yang tidak dimiliki oleh Jalak Putih biasa (Acridotheres melanopterus). Jalak Bali juga merupakan spesies endemik Bali, sedangkan Jalak Putih memiliki persebaran yang lebih luas.
Status Konservasi
Ancaman Utama
- Habitat yang terfragmentasi (ancaman alih fungsi lahan)
- Perubahan iklim (kemarau panjang mengurangi ketersediaan air/pakan)
- Potensi perburuan liar (meski sudah sangat berkurang)
Upaya Konservasi
- Penangkaran ex-situ (luar habitat)
- Pelepasliaran rutin (restocking) oleh TNBB
- Pemasangan kotak sarang buatan (nest box)
- Patroli rutin jagawana
Fakta Menarik
- Jalak Bali adalah satu-satunya spesies burung endemik asli pulau Bali yang masih tersisa; spesies lain seperti Harimau Bali sudah punah
- Mereka adalah burung yang sangat bersih; sering terlihat melakukan water bathing (mandi air) dan ant bathing (menggosokkan semut ke bulu untuk membersihkan parasit)
- Di alam liar, mereka sering bersarang di lubang bekas burung Pelatuk karena paruh mereka tidak cukup kuat untuk melubangi pohon keras sendiri
- Pernah dianggap 'hampir punah di alam liar' (Extinct in the Wild) pada awal 2000-an sebelum program breeding masif berhasil menyelamatkannya
- Gambar Jalak Bali diabadikan dalam koin uang logam Rupiah pecahan Rp 200 (emisi 2003)