Jalak Suren
Gracupica contra
Panjang
21-24 cm
Berat
70-100 g
Habitat
Area persawahan terbuka
Reproduksi
3-5 telur
Status Konservasi
Ancaman Utama
- Penggunaan pestisida berlebih di sawah (menghilangkan mangsa)
- Perburuan liar masa lalu (lokal extinction)
Upaya Konservasi
- Penangkaran massal oleh masyarakat (Sangat sukses secara ex-situ)
- Pelepasliaran di area bebas pestisida
Si Topeng Oranye yang Ekspresif
Jalak Suren mudah dikenali dari 'kacamata' kulit berwarna oranye cerah di sekitar matanya yang tanpa bulu. Tubuhnya memiliki pola warna pied (belang) hitam
dan putih yang tegas. Burung ini lebih sering terlihat berjalan kaki di tanah daripada melompat saat mencari makan. Meski sekilas sama, populasi Jawa
(Gracupica jalla) kini sering dianggap spesies terpisah yang statusnya di alam liar sangat kritis (Critically Endangered), berbeda dengan kerabatnya
di Sumatera atau Asia daratan.
Nama Lokal
Sinonim
Identifikasi Lapangan
Ciri Pembeda Utama
Kulit mata oranye dan tubuh pied (belang).
Sering Tertukar Dengan
- jalak-kebo:Jalak Kebo berwarna dominan abu-abu hitam tanpa warna putih yang kontras seperti Suren.
Tips Pengamatan
- Cari di sawah dekat kerbau (jarang).
- Cari di toko burung (sangat umum).
Penghuni Persawahan yang Hilang
Dulunya, Jalak Suren adalah pemandangan umum di setiap persawahan Jawa. Namun, penggunaan pestisida yang berlebihan telah memusnahkan sumber pakan alami mereka,
menyebabkan kepunahan lokal di banyak tempat. Kini, mereka lebih mudah ditemukan di sangkar daripada di sawah. Area persawahan organik dan tepi hutan jarang
menjadi benteng terakhir habitat liar mereka.
Sahabat Petani dan Kerbau
Dihabitat aslinya, Jalak Suren adalah pengendali hama alami. Makanannya didominasi oleh serangga tanah (70%) seperti siput sawah, keong, cacing, dan ulat.
Mereka memiliki hubungan simbiosis unik dengan kerbau atau sapi, sering terlihat bertengger di punggung ternak untuk memakan kutu atau serangga yang
terbang karena langkah kaki hewan besar tersebut.
Komposisi Pakan
omnivoraPeta Persebaran
Status Endemik
Tersebar LuasNegara
Provinsi
Fakta Menarik
- Satu-satunya burung yang memiliki simbiosis mutualisme erat dengan kerbau (pemakan kutu).
- Contoh sukses konservasi ex-situ: Hampir punah di alam (CR), tapi melimpah di penangkaran (Jutaan).
- Sering memompa tubuh (body pumping) naik-turun saat berkicau yang menandakan kondisi kesehatan prima.
Perilaku & Suara
Suara ribut, kasar, namun bervariasi. Mampu meniru suara manusia (mimikri) jika dilatih. Sering memompa tubuh saat berkicau.
Reproduksi
3-5
Telur
15
Hari Inkubasi
23
Hari Asuh
11
Bulan Dewasa
Musim Kawin
Tipe Sarang
Kisah Sukses Penangkaran Klaten
Jalak Suren adalah contoh nyata bagaimana hobi bisa menyelamatkan spesies (ex-situ). Di tahun 90-an, burung ini nyaris punah di Jawa. Namun, booming penangkaran
di daerah seperti Klaten, Jawa Tengah, berhasil memproduksi massal burung ini. Kini jumlahnya di penangkaran mencapai jutaan ekor, menjadikannya burung
yang sangat terjangkau dan tersedia luas, meskipun populasi liarnya masih berjuang untuk pulih.
Budaya & Sejarah
Simbol Daerah
Satpam Rumah (Alarm Alami)
Kepercayaan Lokal
Dipercaya menjauhkan hama sawah dan pekarangan. Suaranya yang ribut menjadi alarm jika ada orang asing.
Sejarah
Dideskripsikan Linnaeus 1758. Sempat nyaris punah di Jawa tahun 90-an, kini melimpah berkat penangkaran Klaten.
Pemeliharaan & Harga
Info Pemeliharaan
Burung yang 'rakus' dan metabolisme cepat, sehingga kandang harus sering dibersihkan.
Kisaran Harga
Harga sangat terjangkau karena suksesnya penangkaran massal.
Update: 2025-12-26
Galeri Foto

Seluruh badan Jalak Suren dalam pose berkicau

Detail kepala dan kulit mata oranye Jalak Suren
Suara & Kicauan
Alarm Alami Penjaga Rumah
Karakter suara Jalak Suren sangat ribut, berisik, dan kasar ("kretek-kretek"). Namun, justru inilah daya tariknya. Mereka sangat waspada dan akan berkicau
keras saat melihat orang asing atau hewan predator, sehingga sering dijadikan "satpam" atau alarm alami di rumah-rumah pedesaan. Jika dilatih, mereka
juga mampu meniru suara manusia dengan cukup fasih.
Suara kasar kretek-kretek dan isian.
"kretek-kretek"
Credit: BurungSuper
Frekuensi berkicau: sangat-sering
Pertanyaan Umum
Secara taksonomi terbaru, mereka sering dipisah. Jalak Suren Jawa (G. jalla) memiliki ciri fisik sedikit berbeda dan status konservasinya jauh lebih gawat (Critically Endangered di alam) dibanding G. contra (Sumatera/Asia) yang masih Least Concern. Di pasaran, Jalak Suren Jawa sering dianggap memiliki mental dan suara lebih bagus.
Cukup sulit karena monomorfik. Jantan biasanya memiliki kulit oranye di mata yang lebih lebar dan cerah, warna hitam lebih mengkilap, postur lebih tegap, dan 'dupa' (anus) yang lebih menonjol dengan bulu-bulu di sekitarnya. Namun untuk akurasi 100%, disarankan tes DNA.
Bisa, tapi tidak sefasih Beo. Jalak Suren memiliki kemampuan mimikri yang lumayan. Dengan latihan rutin sejak anakan, mereka bisa meniru beberapa kata sederhana atau suara lingkungan seperti sirine dan suara hewan lain.
Status Konservasi
Ancaman Utama
- Penggunaan pestisida berlebih di sawah (menghilangkan mangsa)
- Perburuan liar masa lalu (lokal extinction)
Upaya Konservasi
- Penangkaran massal oleh masyarakat (Sangat sukses secara ex-situ)
- Pelepasliaran di area bebas pestisida
Fakta Menarik
- Satu-satunya burung yang memiliki simbiosis mutualisme erat dengan kerbau (pemakan kutu).
- Contoh sukses konservasi ex-situ: Hampir punah di alam (CR), tapi melimpah di penangkaran (Jutaan).
- Sering memompa tubuh (body pumping) naik-turun saat berkicau yang menandakan kondisi kesehatan prima.