Foto: BurungSuper.com
10 Burung Endemik Indonesia yang Terancam Punah
Indonesia memiliki lebih dari 500 burung endemik, namun banyak yang kini terancam punah. Kenali 10 spesies yang paling membutuhkan perhatian konservasi beserta data populasi terkini 2024-2025.
Tim BurungSuper
Penulis
Indonesia adalah salah satu negara dengan keanekaragaman hayati tertinggi di dunia. Negara kepulauan ini menjadi rumah bagi lebih dari 1.800 spesies burung, di mana lebih dari 500 di antaranya adalah spesies endemik yang tidak ditemukan di tempat lain. Sayangnya, banyak dari spesies unik ini kini menghadapi ancaman kepunahan akibat kerusakan habitat dan perdagangan ilegal.
Apa Itu Burung Endemik?
Burung endemik adalah spesies yang sebaran geografisnya terbatas pada satu wilayah tertentu, seperti satu pulau atau kepulauan. Tingginya angka endemisme di Indonesia menjadikan negara ini salah satu prioritas utama konservasi dunia. Namun, keterbatasan wilayah ini juga membuat mereka sangat rentan terhadap kepunahan jika habitat aslinya rusak.
Daftar Burung Endemik Terancam Punah
1. Jalak Bali (Leucopsar rothschildi)
Jalak Bali adalah ikon keberhasilan sekaligus tantangan konservasi Indonesia. Burung putih bersih dengan "topeng" biru ini hanya ada di Taman Nasional Bali Barat (TNBB). Berkat program penangkaran dan pelepasliaran (restocking) yang intensif, populasinya perlahan bangkit dari ambang kepunahan.
- Populasi Terkini: Diperkirakan mencapai ~600 ekor di alam liar (TNBB) pada tahun 2023-2024, bangkit dari hanya 6 ekor di tahun 2001.
- Status IUCN: Critically Endangered (Kritis).
2. Elang Jawa (Nisaetus bartelsi)
Sang Garuda—simbol negara Indonesia—ini adalah penguasa langit hutan Pulau Jawa. Keberadaannya sangat bergantung pada hutan primer yang terus menyusut. Elang Jawa memiliki jambul khas yang membuatnya terlihat gagah namun rentan terhadap perburuan.
- Populasi Terkini: Diperkirakan tersisa sekitar 300-500 pasang di alam liar.
- Status IUCN: Endangered (Genting).
3. Rangkong Gading (Rhinoplax vigil)
Burung ini memiliki keunikan berupa casque (tanduk) padat di paruhnya yang sering disebut "gading merah". Sayangnya, keunikan ini memicu perburuan masif untuk diselundupkan ke pasar gelap internasional sebagai bahan ukiran mahal.
- Ancaman Utama: Perburuan paruh untuk "gading" dan hilangnya pohon besar untuk bersarang.
- Status IUCN: Critically Endangered (Kritis) — Statusnya melompat drastis dari Near Threatened langsung ke Critical pada 2015 karena perburuan ekstrem.
4. Ekek-geling Jawa (Cissa thalassina)
Sering disebut Javan Green Magpie, burung cantik berwarna hijau terang ini adalah endemik Jawa Barat. Warnanya yang indah dan suaranya yang merdu menjadikannya target utama pedagang burung, sehingga ia nyaris punah di alam liar sebelum banyak orang mengenalnya.
- Populasi Terkini: Diperkirakan kurang dari 100-250 ekor di alam liar, menjadikannya salah satu burung paling langka di Jawa.
- Status IUCN: Critically Endangered (Kritis).
5. Maleo Senkawor (Macrocephalon maleo)
Burung unik endemik Sulawesi ini tidak mengerami telurnya, melainkan menguburnya di dalam pasir panas bumi (geotermal) atau pasir pantai yang terpapar matahari. Anak Maleo yang baru menetas harus langsung bisa terbang untuk menghindari predator.
- Ancaman Utama: Pencurian telur oleh manusia dan predator alami, serta hilangnya koridor hutan pantai.
- Status IUCN: Endangered (Genting).
6. Tokhtor Sumatera (Carpococcyx viridis)
Salah satu burung paling misterius di Indonesia. Burung Ground-cuckoo ini hidup di lantai hutan Sumatera dan sangat sulit dijumpai. Selama hampir satu abad, burung ini sempat dianggap punah sebelum akhirnya tertangkap kamera kembali.
- Populasi Terkini: Diperkirakan kurang dari 300 ekor.
- Status IUCN: Critically Endangered (Kritis).
7. Jalak Putih (Acridotheres melanopterus)
Sering dikira sama dengan Jalak Bali, Jalak Putih (khususnya ras tricolor dan melanopterus) adalah endemik Jawa dan Bali yang nasibnya tak kalah memprihatinkan. Perburuan untuk pasar burung kicau telah mengosongkan hutan-hutan di Jawa dari spesies ini.
- Fakta: Kini lebih mudah ditemukan di sangkar pedagang daripada di habitat aslinya di hutan.
- Status IUCN: Critically Endangered (Kritis).
8. Kakatua Kecil Jambul Kuning (Cacatua sulphurea)
Terkenal cerdas dan bisa meniru suara, burung ini menjadi korban perdagangan satwa peliharaan global. Populasi liarnya di Sulawesi dan Nusa Tenggara anjlok drastis akibat penyelundupan (seringkali dimasukkan secara kejam ke dalam botol air mineral).
- Ancaman Utama: Perdagangan ilegal dan penebangan pohon sarang.
- Status IUCN: Critically Endangered (Kritis).
9. Cendrawasih Merah (Paradisaea rubra)
Burung surga endemik Raja Ampat dan Waigeo ini terkenal dengan dua "kawat" panjang melingkar di ekornya dan bulu merah menyala. Meski statusnya belum Kritis, tren populasinya menurun akibat deforestasi dan perburuan lokal untuk hiasan.
- Fakta: Jantan melakukan tarian rumit untuk memikat betina di puncak pohon.
- Status IUCN: Near Threatened (Hampir Terancam).
10. Trulek Jawa (Vanellus macropterus)
Ini adalah legenda sedih konservasi Indonesia. Burung pantai endemik Jawa ini tidak pernah tercatat secara pasti keberadaannya sejak tahun 1940-an, meskipun belum secara resmi dinyatakan punah total karena masih ada laporan (belum terkonfirmasi) dari penduduk lokal.
- Status IUCN: Critically Endangered (Kritis) — Ditandai sebagai Possibly Extinct (Kemungkinan Punah).
Mengapa Mereka Terancam?
Ancaman terbesar bagi burung-burung ini hampir seluruhnya berasal dari aktivitas manusia:
- Perdagangan Ilegal & Hobi Kicau: Permintaan pasar burung peliharaan yang tinggi (terutama untuk Jalak, Ekek-geling, dan Kakatua) memicu perburuan di alam.
- Deforestasi: Konversi hutan menjadi perkebunan sawit dan pemukiman menghilangkan pohon tempat mereka bersarang (sangat berdampak pada Elang Jawa dan Rangkong).
- Perburuan Bagian Tubuh: Seperti Rangkong Gading yang diburu paruhnya.
Apa yang Bisa Kita Lakukan?
- Stop Beli Burung Liar: Jangan membeli burung endemik yang dilindungi, terutama yang tidak memiliki sertifikat penangkaran resmi.
- Dukung Ekowisata: Mengunjungi habitat mereka (seperti birdwatching di TN Bali Barat atau Raja Ampat) memberikan nilai ekonomi pada burung yang hidup di alam, bukan di sangkar.
- Lapor: Jika melihat penjualan satwa dilindungi secara online atau offline, laporkan ke BKSDA setempat atau aplikasi pelaporan satwa liar.
Kesimpulan
Kehilangan satu spesies burung endemik berarti kehilangan warisan alam Indonesia selamanya. Kisah pemulihan Jalak Bali membuktikan bahwa harapan itu masih ada jika kita bergerak bersama. Mari pastikan generasi mendatang masih bisa mendengar kicauan Ekek-geling Jawa dan melihat tarian Cendrawasih di alam liar, bukan hanya lewat foto di internet.
Artikel ini adalah bagian dari seri konservasi BurungSuper.com. Data status konservasi diperbarui mengikuti rilis IUCN Red List dan Burung Indonesia terbaru (2024-2025).
Burung dalam Artikel Ini
Jalak Bali
Leucopsar rothschildi
Burung pengicau berukuran sedang (21-25 cm) dengan bulu putih bersih di seluruh tubuh kecuali ujung ...
Elang Jawa
Nisaetus bartelsi
Elang berukuran sedang dengan jambul khas yang menonjol, sering dianggap sebagai representasi nyata ...
Cendrawasih Merah
Paradisaea rubra
Burung dewata ikonik dengan kombinasi warna kuning dan merah mencolok. Jantan memiliki fitur unik be...
Maleo Senkawor
Macrocephalon maleo
Burung tanah berukuran sedang mirip ayam dengan tonjolan tulang unik (casque) di kepala. Memiliki po...
Rangkong Gading
Rhinoplax vigil
Rangkong terbesar di Sundaland dengan penampilan purba. Satu-satunya rangkong dengan balung kepala s...
Trulek Jawa
Vanellus macropterus
Burung air bertubuh tegap dan berkaki panjang yang misterius. Dikenal dengan gelambir kuning di waja...